KENDARI,DPK GMNI FISIP UHO –Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kendari yang seharusnya menjadi momentum refleksi dan evaluasi justru diwarnai duka mendalam. Di tengah gegap gempita perayaan dan kesibukan Pemerintah Kota Kendari menyambut United Cities and Local Governments Asia-Pacific Congress (UCLG ASPAC), seorang anak dilaporkan meninggal dunia akibat banjir yang melanda sejumlah wilayah kota. Kabar duka tersebut diberitakan oleh Ketua tangkap Bencana kendari.
Dewan Pimpinan Komisariat (DPK) GMNI FISIP Universitas Halu Oleo menilai tragedi ini sebagai bukti paling nyata bahwa Pemerintah Kota Kendari telah gagal menetapkan prioritas pembangunan. Ketika panggung-panggung seremoni dibangun, dekorasi kota dipoles, dan pemerintah berlomba menampilkan citra modern di hadapan tamu nasional maupun internasional, di sisi lain rakyat justru menghadapi ancaman yang terus berulang setiap musim hujan.
Ketua DPK GMNI FISIP UHO, Bung Fadil, menegaskan bahwa tidak ada kemajuan yang patut dibanggakan ketika keselamatan warga, terutama anak-anak, tidak mampu dijamin oleh pemerintah.
Bagaimana mungkin sebuah kota merayakan hari jadinya dengan penuh kemeriahan, sementara pada saat yang sama seorang anak harus kehilangan nyawanya akibat banjir yang terus dibiarkan berulang? Ini bukan sekadar bencana alam. Ini adalah konsekuensi dari tata kelola yang buruk, perencanaan yang lemah, dan pemerintah yang lebih sibuk membangun citra daripada menyelesaikan persoalan mendasar masyarakat, tegas Bung Fadil.
Menurutnya, banjir yang terus terjadi menunjukkan bahwa persoalan drainase, tata ruang, alih fungsi lahan, dan pengelolaan lingkungan belum ditangani secara serius. Pemerintah, kata dia, tidak dapat terus berlindung di balik alasan cuaca ekstrem apabila masalah yang sama terus terjadi dari tahun ke tahun tanpa solusi yang nyata.
Sekretaris DPK GMNI FISIP UHO, Bung Maman Marobo, menyampaikan kritik yang lebih tajam. Ia menilai bahwa pelaksanaan UCLG dan kemeriahan HUT Kota Kendari telah memperlihatkan kontras yang menyakitkan antara citra yang dipertontonkan pemerintah dan realitas yang dialami masyarakat.
Pemerintah Kota Kendari tampaknya lebih sibuk menata panggung untuk menyambut tamu internasional daripada menata sistem drainase untuk menyelamatkan rakyatnya sendiri. Kota ini dipoles agar terlihat indah di mata dunia, tetapi di balik gemerlap itu, ada keluarga yang harus menangisi kepergian anaknya. Jika nyawa rakyat masih kalah penting dibanding prestise dan seremoni, maka pemerintah telah kehilangan legitimasi moral untuk berbicara tentang kemajuan, ujar Bung Maman Marobo.
Ia menegaskan bahwa HUT Kota Kendari seharusnya menjadi momentum introspeksi, bukan perayaan yang menutupi kegagalan pemerintah. Sejarah, menurutnya, tidak akan mencatat seberapa megah acara digelar, tetapi akan mengingat bahwa di tengah pesta ulang tahun kota dan forum internasional, seorang anak meninggal dunia akibat banjir yang tidak kunjung teratasi.
DPK GMNI FISIP UHO mendesak Pemerintah Kota Kendari untuk melakukan evaluasi total terhadap arah pembangunan kota, mulai dari penataan ruang, sistem drainase, pengawasan lingkungan, hingga keberpihakan anggaran. Pemerintah harus menghentikan politik pencitraan dan mengembalikan seluruh energi serta sumber daya pada penyelesaian persoalan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Tidak ada kehormatan dalam menjadi tuan rumah forum internasional jika rakyat sendiri tidak merasa aman di kotanya. Tidak ada makna HUT Kota jika di saat yang sama ada orang tua yang harus menguburkan anaknya. Kota yang maju bukan kota yang paling meriah perayaannya, tetapi kota yang mampu melindungi setiap warganya dari ancaman yang seharusnya bisa dicegah, tutup Bung Maman Marobo.
