Kendari – Kondisi fasilitas di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO) kembali menjadi perhatian serius mahasiswa. Atap yang bocor saat hujan dinilai telah menyebabkan plafon rusak dan lapuk sehingga menyebabkan air hujan masuk keruang kuliah dan menganggu proses belajar mengajar dan berpotensi membahayakan keselamatan civitas akademika.
Keluhan ini muncul setelah beberapa ruang perkuliahan mengalami kebocoran cukup parah ketika intensitas hujan meningkat. Air yang masuk ke dalam ruangan menyebabkan lantai menjadi basah, peralatan belajar terganggu, serta menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan runtuhnya plafon di beberapa titik yang terlihat rapuh.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FISIP UHO, Dayat, menyampaikan kritik tegas kepada pihak fakultas dan universitas. Ia menilai bahwa persoalan ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan bentuk kelalaian dalam pemenuhan fasilitas dasar mahasiswa.
“Kami menilai kondisi ini tidak bisa lagi dianggap biasa. Ketika hujan turun, ruang kuliah (Alibas) justru tidak dapat digunakan secara maksimal karena kebocoran. Ini jelas mengganggu aktivitas akademik dan berpotensi membahayakan mahasiswa,” ujar Dayat.
Lebih lanjut, Dayat menegaskan bahwa kampus sebagai institusi pendidikan seharusnya mampu menjamin kenyamanan dan keselamatan mahasiswa dalam menjalankan proses perkuliahan. Ia mempertanyakan komitmen pihak kampus dalam mengelola dan merawat infrastruktur yang ada.
“Fasilitas yang layak adalah hak mahasiswa. Kampus tidak boleh abai terhadap kondisi seperti ini. Kami mempertanyakan sejauh mana prioritas pengelolaan anggaran diarahkan untuk kebutuhan mendasar seperti perbaikan sarana dan prasarana,” tegasnya.
DPM FISIP UHO juga mendesak agar pihak fakultas dan universitas segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi bangunan serta mengambil langkah cepat dan konkret dalam melakukan perbaikan. Menurut Dayat, keterlambatan penanganan hanya akan memperparah kerusakan dan meningkatkan risiko bagi mahasiswa.
Selain itu, ia menekankan pentingnya transparansi dari pihak kampus terkait pengelolaan anggaran, khususnya yang berkaitan dengan pemeliharaan fasilitas pendidikan.
“Kami meminta adanya keterbukaan informasi kepada publik, khususnya mahasiswa, terkait anggaran perawatan fasilitas. Jangan sampai ada kesan bahwa kebutuhan mahasiswa diabaikan,” tambahnya.
Sebagai bentuk keseriusan, DPM FISIP UHO menyatakan akan terus mengawal isu ini hingga ada tindakan nyata dari pihak kampus. Jika tidak terdapat respon yang memadai dalam waktu dekat, mahasiswa tidak menutup kemungkinan akan mengambil langkah lanjutan sebagai bentuk protes.
“Kami tegaskan, ini bukan sekadar keluhan, tetapi bentuk tuntutan atas hak mahasiswa. Jika tidak ada langkah konkret, kami siap mengambil sikap lebih lanjut,” ujar Dayat.
Menutup pernyataannya, Dayat menyampaikan kecaman terhadap segala bentuk pembiaran yang berpotensi merugikan mahasiswa.
“Kami mengecam keras jika ada pembiaran terhadap kondisi ini. Kampus harus hadir memberikan solusi, bukan justru membiarkan mahasiswa belajar dalam kondisi yang tidak layak dan tidak aman,” tutupnya.
